Jangan Anggap Remeh Jamur Kulit
Rabu, 28 November 2012
0
komentar
Banyak
orang beranggapan bahwa penyakit panu atau kurap sekadar masalah
kosmetik. Pernah menikmati tempe atau tapai? Di masyarakat Indonesia
kedua makanan ini sangat akrab sebagai hidangan di atas meja. Makanan
dari kedua jenis bahan itu cukup lunak dan nikmat ketika dimakan. Ini
tentu berbeda bila kita menyantap bahan bakunya. Tidak lunak, bukan?
Kenikmatan
rasa tempe, tapai, roti, oncom, dan masih banyak jenis makanan yang
lainnya itu dihasilkan dari proses fermentasi jamur. Kehadiran jamur
dimanfaatkan untuk hal lain, seperti untuk melengkapi sayuran dan
lauk-pauk bagi keluarga, dan untuk menghasilkan obat antibiotik.
Di
dunia diperkirakan terdapat 100 ribuan jenis jamur. Tergolong ke dalam
kelompok fungi, jamur bisa saja terdiri atas satu sel yang besarnya
beberapa mikrometer, atau dapat juga membentuk tubuh buah yang besarnya
mencapai satu meter. Sel-selnya tersusun berderet satu per satu dan
membentuk hifa atau benang-benang (filamen). Alat perkembangbiakannya
berupa spora.
Karena
tak punya hijau daun, jamur menjadi makhluk konsumen dan sangat
bergantung pada medium yang menyediakan karbohidrat, protein, vitamin,
dan persenyawaan kimia lainnya. Semua itu didapatkannya dengan cara
menyerap unsur yang dibutuhkan dari lingkungan hidupnya melalui sistem
hifa.
Selain
bisa melakukan fermentasi medium karbohidrat menjadi gula, jamur pun
juga sangat penting dalam kehidupan manusia. Dengan jamur, sampah dan
bangkai makhluk hidup lainnya bisa terurai. Namun, seringkali jamur juga
dapat menguraikan bahan yang diperlukan manusia sehingga bisa
mendatangkan kerugian. Pembusukan pada makanan dan pelapukan pada kayu
cukup merepotkan manusia. Tak hanya itu, jamur bisa beracun dan
menyebabkan penyakit tertentu.
Jamur pada manusia
Jamur
memang sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia. Sedemikian
eratnya sehingga manusia tak terlepas dari jamur. Jenis fungi-fungian
ini bisa hidup dan tumbuh di mana saja, baik di udara, tanah, air,
pakaian, bahkan di tubuh manusia sendiri.
''Jelasnya,
di mana pun jamur bisa hidup, terutama di lingkungan yang cocok baginya
berkembang biak. Manusia itu termasuk salah satu tempat bagi jamur
untuk tumbuh, di samping bakteri dan virus,'' jelas pakar kesehatan
kulit dan kelamin, Dr Kusmarinah Bramono dari FKUI (RSUPN-Cipto
Mangunkusumo) dalam pemaparan tentang jamur di Jakarta, beberapa waktu
lalu.
Jamur
bisa menyebabkan penyakit yang cukup parah bagi manusia. Penyakit
tersebut antara lain mikosis yang menyerang langsung pada kulit,
mikotoksitosis akibat mengonsumsi toksin dari jamur yang ada dalam
produk makanan, dan misetismus yang disebabkan oleh konsumsi jamur
beracun.
Pada
manusia jamur hidup pada lapisan tanduk. Jamur itu kemudian melepaskan
toksin yang bisa menimbulkan peradangan dan iritasi berwarna merah dan
gatal. Infeksinya bisa berupa bercak-bercak warna putih, merah, atau
hitam di kulit dengan bentuk simetris. Ada pula infeksi yang berbentuk
lapisan-lapisan sisik pada kulit. Itu tergantung pada jenis jamur yang
menyerang.
Menurut
Jimmy Sutomo dari perusahaan Janssen-Cilag, sebagai negara tropis
Indonesia menjadi lahan subur tumbuhnya jamur. Karena itu,
penyakit-penyakit akibat jamur sering kali menjangkiti masyarakat.
''Kita
lihat, banyak masyarakat tak menyadari bahwa dirinya terinfeksi oleh
jamur. Bahkan, jamur bisa mengenai manusia dari kepala hingga ujung
kaki, dari bayi hingga orang dewasa dan orang lanjut usia,'' ujar Jimmy.
Janssen-Cilag merupakan perusahaan farmasi yang memimpin pasaran dengan
obat antijamur yang mengandung miconazole nitrate dua persen.
Jimmy
menjelaskan, banyak orang meremehkan penyakit karena jamur, seperti panu
atau kurap. Padahal, penyakit ini bisa menular lewat persentuhan kulit,
atau juga dari pakaian yang terkontaminasi spora jamur. Banyak
anggapan, katanya, penyakit panu atau kurap sekadar masalah kosmetik.
Anggapan
ini dibenarkan Kusmarinah. ''Kami sering menangani pasien karena jamur.
Mereka baru datang ke dokter kalau sudah merasakan gangguan kosmetik
yang parah akibat infeksi jamur. Sebelumnya, mereka tak begitu
memperhatikan penyakit ini.''
Pengobatan
Seharusnya,
lanjut ahli kulit dari FKUI itu, masyarakat perlu memperhatikan
kebersihan diri dan menjaga kekebalan tubuhnya bila ingin terhindar dari
infeksi jamur. Bahaya infeksi jamur tak sekadar menyebabkan panu atau
kurap saja, tapi juga bisa menyebakan kematian bila infeksinya meluas
dan bahkan masuk ke organ dalam tubuh.
Karena
itu, bila mendapati dirinya terkena infeksi jamur maka seseorang itu
perlu segera diobati. Pengobatan yang dilakukan biasanya dengan
antijamur. Lamanya pengobatan tergantung pada tingkat infeksi yang
terjadi. ''Pengobatan diusahakan dilakukan sampai penyakit hilang dan
sembuh benar. Kami pun harus memilih jenis obat antijamur yang efektif
membasmi jamur dengan efek samping yang minimal,'' sambung Kusmarinah.
Dia
mengemukakan, ada jenis obat yang bersifat iritan. Maksudnya, cara kerja
obat tersebut memapas jamur dengan mengikis permukaan yang terkena
jamur tiap lapisan. Biasanya obat ini memerlukan waktu 1-4 minggu untuk
jenis panu atau kurap. Tapi, kondisi inipun tergantung pada tingkat
keparahannya. Jenis obat lainnya bersifat fungisida. Ini lebih
mengarahkan sasaran pada jamur itu sendiri tanpa mengiritasi kulit.
Kusmarinah
dan Jimmy mengakui, banyak produk farmasi khusus untuk obat jamur kulit
yang dijual bebas di pasaran. Umumnya masyarakat pun melakukan self
medication atau pengobatan sendiri dengan membeli obat antijamur yang
bebas itu. ''Bisa-bisa saja penderita melakukannya. Hanya saja, asal
tahu jelas jenis infeksi jamur yang dideritanya. Namun, saya sering
menemukan, masyarakat salah menggunakannya. Mereka biasanya berlebihan
dalam menggunakan obat. Akibatnya, ketika kami diagnosis sulit bagi kami
untuk melihat gejalanya,'' demikian Kusmarinah merincinya.
Itu
juga karena persoalan informasi yang tak sampai pada masyarakat pengguna
produk. ''Untuk informasi produk seharusnya disampaikan oleh ahli
farmasi. Di negara kita, fungsi ini tak berjalan,'' cetus Jimmy.
Maka,
masyarakat diharapkan berhati-hati dalam menggunakan obat. Sebab,
infeksi jamur tak bisa dianggap enteng dan tak selalu bisa diatasi
dengan pengobatan sendiri. Apalagi, dari seluruh penyakit kulit yang
ditemui, masalah infeksi jamur ternyata tergolong cukup tinggi. Dengan
demikian, masyarakat diharapkan meminta saran pengobatan kepada dokter
dan melakukan pencegahan terhadap infeksi jamur.
Kenali Jenis Infeksi Jamur Kulit
* Panu (pitiriasis versikolor): menyerang kulit, bercak putih, merah, atau hitam.
*
Kurap (dermatofitosis) yang terdiri atas Tinea Apitis menyerang kulit
kepala, Tinea Korporis pada permukaan kulit, Tinea Kruris pada lipatan
kulit, Tinea Pedis pada sela jari kaki (athlete's foot), Tinea Manus
pada kulit telapak tangan, Tinea Imbrikata berupa sisik pada kulit di
daerah tertentu, dan Tinea Ungium (pada kuku). Umumnya berbentuk sisik
kemerahan pada kulit atau sisik putih. Pada kuku, terjadi peradangan di
sekitar kuku, dan bisa menyebabkan bentuk kuku tak rata permukaannya,
berwarna kusam, atau membiru.
* Ketombe (Pitiriasis Sika).
*
Infeksi Kandida (kandidosis) pada lipatan kulit, sela jari, sela paha,
ketiak, bawah payudara, mulut (sariawan), genetalia (keputihan), dan
ruam popok.
Faktor-faktor Pencetus Infeksi
- Lembab dan panas dari lingkungan, dari pakaian ketat, dan pakaian tak menyerap keringat.
- Keringat berlebihan karena berolahraga atau karena kegemukan.
- Friksi atau trauma minor, misalnya gesekan pada paha orang gemuk.
- Keseimbangan flora tubuh normal terganggu, antara lain karena pemakaian antibiotik, atau hormonal dalam jangka panjang.
- Penyakit tertentu, misalnya HIV/AIDS, dan diabetes.
-
Kehamilan dan menstruasi. Kedua kondisi ini terjadi karena
ketidakseimbangan hormon dalam tubuh sehingga rentan terhadap jamur.
Cara Memastikan Penyakit Jamur
- Pemeriksaan tampilan secara klinis.
-
Pemeriksaan dengan bantuan sinar lampu Wood (UV), kerokan kulit, mukosa,
kuku untuk pemeriksaan mikroskopik, dan pemeriksaan biakan untuk
mengetahui jenis jamurnya.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Jangan Anggap Remeh Jamur Kulit
Ditulis oleh kerak telor
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://sehatinfodini.blogspot.com/2012/11/jangan-anggap-remeh-jamur-kulit.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.Ditulis oleh kerak telor
Rating Blog 5 dari 5
0 komentar:
Posting Komentar